Kamis, 05 Agustus 2010

DIBALIK JEJAK HITAM DAN PUTIH

“ Tak kenal maka tak tahu. Kaulah presidenku dan kaulah sejarahn ku dulu ”. Itulah yang dapat dibicarakn bansa indonesia kapada bapak pembangun bangsa. Dengan banyak orang yang telah mengenangnya. Wacana sebagai musuh pun ada yang mengemukakan, wacana mengenang sebagai pahlawanpun banyak yang mendengungkan.
           
Lemah nya hukum dan pengaruh militer kuat yang telah masuk kedalam sistem. Seperti bola yang mudah diendang kesana dan kesini membuatnya mudah untuk melakukan sesuatu yang penuh dengan ketidakpastian jawaban hingga sekarang.

Dia adalah seorang prajurit militer yang cerdas,penuh skenario dan strategi. Lebih dari 3 dekade beliau memimpin negeri ini. Seperti kita ketahuii banyak pengalaman militer yang beliau terapkan dalam sistem bangsa kita. Demokrasi pancasila yang dijalankan, benar tidak dapat dijadikan penyaring masukan yang lebih baik. Dengan kata lain yang tidak sesuai dengan pancasila ditetapkan sabagai musuh negara. Mungkin arti demokrasi yang dijalankan hanya sebatas teoritis. Monopoli roda pemerintahan, keputusan yang represif, terdapat kesenggangan rakyat untuk berpolitik. Akibatnya Banyak mengalami gejolak ideologi dibangsa ini antar penagnut ideologi yang berbeda.

Swasembada beras yang didengung dengungkan apakah itu terjadi atau hanya ceremony belaka?
Tapi jika benar itulah salah satu sukses yang dapat kita contoh didalam pemerintahan yang berbau “Demokrasi Pancasila”. Bergairahnya petani denan hasil jerih payahnya apakah itu hanya strategi untuk menarik simpatik rakyat kepada pemerintah?
Dengan memanfaatkan bangsa kita yang kebanyakan bermata pencarian sebagai petani?

Kesejahteraan rakyat semakin terpenuhi. Beralangsungnya program KB yang terlaksana dengan baik. Banyak investor yang menanamkan mdal di bangsa ini. Program pembanguna yang terlaksana dengan baik. Stabilitas dan keamanan yang semakin terjaga. “ It’s show times for Indonesia ”. Beliaulah bapak pembangunan dibangsa ini.

Pembunuhan misterius yang tidak jelas. Pembanguan yang terfokus di tingkat pusat. Exploitasi secara besar besaran. Terbatasnya gerak oposisi. Gerakkan para cendikiawan yang mungkin dibatasi. Kebebasan pers yang sangat ditekan. Semakin meluasnya tindak korupso.kolusi dan nepotisme.